Breaking News:

Maluku Terkini

Kualitas Beras Buru dan Kobisonta Jelek, Berikut Standar Bulog

Produk beras sejumlah daerah penghasil beras di Maluku kini tidak lagi diserap Bulog lantaran tidak memenuhi standar.

Muh Ridwan Tuasamu
Gudang beras di Perum Bulog Maluku, Halong, Baguala, Kota Ambon, Senin (27/9/2021). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Ridwan Tuasamu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Produk beras sejumlah daerah penghasil beras di Maluku kini tidak lagi diserap Bulog lantaran tidak memenuhi standar.

Perum Bulog di seluruh Indonesia kini menekankan tiap daerah untuk hanya menyerap beras yang berkualitas.

Salah satu kriteria yang harus dicapai petani yakni kadar air mencapai 14 persen.

Hal tersebut diungkap Kepala Bidang Pengadaan Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Maluku, Hamdani Malawat.

“Untuk memenuhi kriteria kadar air harus 14 persen,” kata Malawat kepada TribunAmbon.com, Selasa (28/9/2021).

Selain itu, butir patah beras dan menirnya harus maksimal 2 persen.

Baca juga: Dilaporkan Hilang, Perempuan Asal Pulau Buru Ini Muncul di Instagram, Ungkap Keberadaan Dirinya

Baca juga: Far Far Sebut Pemkot Ambon Lari dari Kesepakatan Awal Pinjam 50 Miliar

Menir merupakan patahan butir beras utuh dengan ukuran dibawah kurang dari 2 banding 10.

Dia menjelaskan, jika kadar air pada gabah yang dipanen lebih dari 14 persen maka kualitas beras menjadi rendah.

Tingginya kadar air juga mempengaruhi ketahanan beras ketika tersimpan lama di pasar atau dirumah.

“Kalau kadar air melebihi batas yang ditentukan, kualitasnya jadi jelek,” tandasnya

Minat masyarakat untuk membeli juga menurutnya dipengaruhi butir patah beras dan menirnya.

Saat ini Bulog Maluku tidak lagi melakukan penyerapan beras dari petani local karena tidak memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah.

Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved