Breaking News:

Indonesia Terkini

Mantan Tapol Orde Baru Angkat Bicara Sikapi Kebakaran Lapas Tangerang, Ini Tuntutan Mereka

Dijelaskan, para tahanan dan terpidana kerap ditempatkan dalam penjara yang sesak (overcapacity), tidak aman, bahkan mengancam hidup dan kesehatan

Editor: Fandi Wattimena
WARTAKOTA/NUR ICHSAN
KARANGAN BUNGA DUKA CITA - Puluhan karangan bunga tanda duka cita memenuhi halaman depan Lapas Kelas 1 Tangerang, Jumat (10/9/2021). 

TRIBUNAMBON.COM - Mantan narapidana politik orde baru angkat bicara menyoal peristiwa kebakaran di Kompleks Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas 1 Tangerang, Banten, Rabu (8/9/2021) yang menewaskan sedikitnya 44 orang dan mencederai puluhan lainnya.

Dalam siaran pers yang diterima TribunAmbon.com, para mantan tahanan politik (Tapol) orde baru itu menyesalkan kejadian yang sudah berulang kali terjadi itu.

Menurut mereka, peristiwa Rabu dini hari itu menjadi yang terburuk hingga kini.

Untuk itu mereka pun mendesak pemerintah untuk serius menangani masalah tersebut.

“Ini menyangkut masalah pengabaian hak asasi manusia (HAM) oleh negara. Kasus ini menunjukkan ada masalah serius dalam tata kelola pemasyarakatan di Indonesia,” tulis siaran pers, Senin (13/9/2021).

Dijelaskan, para tahanan dan terpidana kerap ditempatkan dalam penjara yang sesak (overcapacity), tidak aman, bahkan mengancam hidup dan kesehatan manusia.

Meski diketahui mereka telah melakukan pelanggaran pidana, namun sejatinya mereka adalah manusia yang berhak atas kondisi yang layak dan hak atas kesehatan.

Baca juga: Mahasiswa Aru Menari Tari Panah di Depan Kantor Gubernur Maluku, Kecewa Tanah Adatnya Dirampas

Baca juga: Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Ambon Demo Tolak Pindah Gedung Kuliah

“Seluruh narapidana berhak mendapatkan perlakuan manusiawi dan bermartabat. Tempat penahanan (LP dan Rutan) harus memberikan hak-hak dasar seperti makanan yang baik, tempat tinggal yang layak dan aman, serta sarana pendidikan sosial yang inklusif,” jelas siaran pers itu.

Sehubungan dengan peristiwa kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang, Banten, Komunitas Mantan Narapidana Politik Orde Baru (KMNPOB) menyatakan sikap sebagai berikut:

1.Menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya 44 warga binaan di LP Kelas I Tangerang, Banten.

2.Mengusulkan dibentuk Tim Pencari Fakta Independen yang melibatkan aparat kepolisian dan kelompok masyarakat sipil yang memiliki kepedulian terhadap isu pemasyarakatan dan HAM.

3.Mendesak Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kumham), khususnya Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), untuk segera mereformasi tata kelola pemasyarakatan dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan warga binaan dan menjadikan isu hak asasi manusia bukan sekadar lips service.

4.Mendesak Dirjen Pemasyarakatan (Dirjenpas) mengundurkan diri sebagai tanggungjawab kelalaiannya telah menyebabkan 44 orang narapidana terbakar dan meninggal dunia.

Tuntutan itu ditandatangani oleh Petrus Hariyanto (Napol PRD Tahun 1996-1999), Fauzi Isman (Napol Kasus Lampung, 1989-1998), Tri Agus Susanto alias TASS (Napol Pijar, 1995-1997), Wilson  (Napol PRD Tahun 1996-1998), Roso Suroso (Napol PRD Tahun 1996-1999), Isti Nugroho (Napol Kasus Diskusi Buku Pramudya Ananta Toer), Eko Maryadi (Napol Aliansi Jurnalis Independen, 1995-1997), Ken Budha Kusumandaru (Napol PRD Tahun  1996-1998), Budiman Sudjatmiko (Napol PRD Tahun 1996-1999), Jacobus Eko Kurniawan alias JEK, Napol PRDtahun 1996-1999). (*)

Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved