Sabtu, 25 April 2026

Anak Paling Rentan Secara Fisik dan Psikis Selama Pandemi Covid-19 Menurut Psikolog

Penyebaran virus SARS-CoV-2 ini memang berdampak ke semua aspek kehidupan, terutama pada anak-anak.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ILUSTRASI aturan baru di sekolah, di tengah wabah virus corona ---- Siswa sekolah dasar negeri 002 Ranai melakukan aktivitas belajar menggunakan masker di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Indonesia, Selasa (4/2/2020). Proses belajar mengajar kembali berlangsung setelah sebelumnya sempat akan diliburkan selama 14 hari terkait lokasi observasi WNI dari Wuhan, China yang berada di Natuna. 

TRIBUNAMBON.COM - Hingga saat ini dunia berjuang mengatasi pandemi covid-19.

Penyebaran virus SARS-CoV-2 ini memang berdampak ke semua aspek kehidupan., terutama pada anak-anak.

Menurut psikolog klinis, Ratih Ibrahim faktanya yang terjadi saat ini sekitar 70% daerah ada di zona merah.

Dan selama pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau ( PPKM) Darurat, 78% persen anak ingin masuk ke sekolah lagi.

Selama pandemi Covid-19, pembelajaran memang diberlakukan jarak jauh.

Hal ini tentunya memengaruhi kehidupan sosial anak.

Baca juga: Persiapkan Herd Immunity Terhadap Anak, Dinkes Ambon Minta Penambahan Vaksin

Di sisi lain, Ratih menyebut jika selama pandemi, fisik anak pun ikut dipengaruhi.

Menurutnya, anak-anak adalah pihak yang paling rentan.

"Orang yang lebih besar bisa lebih mandiri. Sudah lebih matang. Semakin kecil semakin rentan," katanya dalam webinar virtual yang dilaksanakan oleh Jaman Perempuan Indonesia, Sabtu (24/7/2021).

Ratih menyebutkan jika semakin kecil usia anak, maka ruang eksplorasi yang dibutuhkan semakin lebih besar.

Tetap di dalam rumah dengan ruang yang kecil membuat anak jadi enggan bergerak.

Hal ini menyebabkan otot-otot anak tidak berkembang maksimal.

Selain itu, selalu di rumah tanpa adanya kegiatan membuat perkembangan kognitif terbatas.

Beberapa kendala yang dihadapi seperti kesulitan memahami pelajaran, lebih banyak terpapar sosial media dan sebagainya.

Apa yang menjadi tontonan tentu berpengaruh pada perkembangan anak.

"Situasi pandemi rentan menimbulkan semacam trauma yang belum tentu dialami secara langsung. Anak anak cenderung mudah putus asa, gampang marah," katanya lagi.

Sayangnya sikap anak-anak tadi kerap ditimpali dengan kemarahan dari orangtua.

Kadang-kadang sebagai orangtua masih ada yang berteriak pada anak.

Sehingga anak-anak bingung mau mengeskpresikan perasaannya kemana. (*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved