Breaking News:

Ambon Hari Ini

Wakili Indonesia dalam Art For All 2021, Loppies; Orang Ambon Lahir Tidak Menangis Tetapi bernyanyi

Loppies menjelaskan, topik dari event internasional tersebut adalah berbagi pandangan, pengalaman, dan pelajaran, dalam mengajar kesenian

Editor: Fandi Wattimena
TribunAmbon.com/Adjeng
AMBON: Pemandangan Jembatan Merah Putih (JMP) Ambon, Kamis (4/3/2021). 

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Direktur Ambon Music Office (AMO) Ronny Loppies terpilih mewakili Indonesia pada event bertajuk Art For All 2021: Virtual Art Activity Series, yang dilaksanakan Ditjen Kebudayaan Thailand.

“Saya telah dikontak untuk mewakili Indonesia pada event yang juga dihadiri oleh perwakilan negara – negara ASEAN,” kata Loppies dalam rilis pemkot Ambon, Kamis (22/7/2021).

Loppies menjelaskan, topik dari event internasional tersebut adalah berbagi pandangan, pengalaman, dan pelajaran, dalam mengajar kesenian atau kegiatan terkait kesenian melalui daring selama pandemi Covid-19.

Dalam event yang akan berlangsung secara daring pada Jumat, 23 Juli 2021 itu, Loppies akan membawakan materi “Frekuensi Menengah untuk Anak-anak dan Perdamaian Dunia”.

Materi itu berangkat dari potensi Ambon sebagai Kota Musik Dunia, dimana anak-anak di Ambon terlahir dan besar di lingkungan yang penuh harmonisasi music.

“Ambon dikenal di Indonesia sebagai kota penghasil penyanyi. Orang Ambon memiliki talenta yang luar biasa sebagai anugerah Tuhan bukan karena mereka belajar music,” katanya

“Dalam dokumen ke UNESCO ketika menjadi kota musik dunia disampaikan bahwa 90 persen orang ambon dapat bernyanyi. Mereka bernyanyi dari dalam kandungan sampai kematian. Oleh karena itu, orang ambon ketika lahir, mereka tidak menangis tetapi bernyanyi,” tambahnya.

Baca juga: 3 Tahun Tak Mengudara, Radio Harmoni IAIN Ambon Terancam Dicabut Izinnya

Baca juga: 467 Putra-Putri Terbaik Maluku Lolos Anggota Polri

Disebutnya, anak-anak Ambon, suka bernyanyi pada frekuensi menengah karena terbiasa mendengarkan lagu-lagu pop rohani dan pop Ambon yang dinyanyikan oleh orang tuanya.

Sehingga mereka cerdas dan mudah bergaul dan dekat dengan lingkungan.

“Mereka cepat menyesuaikan dengan tempo, pitch dan harmoni secara otomatis tanpa membaca notasi,” terangnya.

Loppies menambahkan, potensi ini sangat penting untuk perdamaian dunia lewat musik anak-anak yang berada pada frekuensi menengah  Dimana frekuensi menengah menciptakan rasa saling cinta terhadap manusia, hewan, dan lingkungan.

Sedangkan irama yang damai yang dihasilkan dipercaya bisa melepaskan energi buruk dan meningkatkan rasa cinta.

“Oleh karena itu Ambon kota musik dunia, membawa branding musik sebagai alat perdamaian dunia dan dimulai dari anak-anak yang suka bernyanyi pada frekuensi menengah,” tambahnya.

Lanjutnya, frekuensi menegah membuat anak-anak juga betah tinggal di rumah selama pandemi covid-19.

Kreativitas anak-anak Ambon juga tetap terjaga dalam berkarya, karena musik membuat mereka rileks, meningkatkan imun tubuh sehingga tidak mudah tepapar virus.

Selain untuk perdamaian, musik di Ambon juga dapat membangun inovasi untuk konservasi alam dan lingkungan, dengan program ‘Sound of Green’ yang digagas AMO.

“Salah satu inovasinya adalah mengkolaborasikan antara musik dan lingkungan dengan melibatkan anak-anak yang selalu mengeluarkan frekuensi menengah. Program ini kami kaitkan dengan wisata musik, pendidikan anak di sekolah dasar dan sekolah menegah, literasi buku dan notasi musik, sekolah alam dan membangun studio untuk anak-anak,” tandasnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved