Breaking News:

Maluku Terkini

Kasus PLTG Namlea, Abdul Gafur Akui Tak Tahu Tanah Ferry Tanaya Hak Erfpacht

Saat ditanya perihal pengukuran tanah oleh Ketua Majelis Hakim, Pasti Tarigan, terdakwa mengaku hanya melakukan apa yang diperintahkan

Penulis: Tanita Pattiasina | Editor: Fandi Wattimena
TribunAmbon.com/ Juna Putuhena
Ilustrasi Kasus Korupsi 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Tanita Pattiasina

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Sidang kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) di Namlea Kabupaten Buru, Provinsi Maluku kembali menghadirkan terdakwa Abdul Gafur Laitupa  dalam agenda keterangan terdakwa.

Terdakwa Abdul Gafur dalam sidang itu mengaku tak mengetahui tanah milik terdakwa Ferry Tanaya (berkas perkara terpisah) merupakan Hak Erfpacht.

“Kita selama ini tidak tahu itu tanah Negara, cuma tahu tanah milik Pak Ferry. Yang kami tahu tidak ada data tanah Erfpacht di Pulau Buru kalau tanah adat ada,” kata terdakwa di Pengadilan Negeri Ambon, Jumat (2/7/2021) siang.

Saat ditanya perihal pengukuran tanah oleh Ketua Majelis Hakim, Pasti Tarigan, terdakwa mengaku hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Kepala Badan Pertanahan (BPN) Kabupaten Buru.

Lanjutnya, Kepala BPN mendapat surat penunjukan dari PLN Unit Induk Wilayah Maluku untuk melakukan pengukuran terhadap tanah Ferry Tanaya.

“PLN mengirim surat kepada kepala BPN, tapi saat itu posisi kepala BPN ada di Ambon dan menunjukan saya untuk minta coba cek lokasi sekaligus perintah buat peta lokasi jadi kami bikin peta lokasi,” lanjutnya.

Saat melakukan pengukuran, terdakwa bersama dengan tiga orang staff dan juga pihak dari Ferry Tanaya yang menunjukan lokasi.

Sesuai dengan arahan pihak PLN, terdakwa Abdul Gafur hanya melakukan pengukuran di tanah Ferry Tanaya dengan luas 4,8 Hektar sesuai kebutuhan pembangunan.

“Diminta untuk tolong di cek tanah sampai 4 hektar atau tidak dan di lapangan sesuai dengan tanah pak Ferry dan cuma tanah pak ferry saja yang kami ukur,” papar terdakwa.

Setibanya di lokasi, lokasi tersebut sudah diberi empat buah patok besar yang dilakukan oleh pihak PLN.

Terdakwa mengakui saat melakukan penomoran peta lokasi, ada kesalahan dan nomor peta bidanglah yang betul atas nama Ferry Tanaya.

“Ada kesalahan penomoran, Kalau nomor saya lupa tapi nomor yang benar di peta bidang,” tambahnya.

Dia menjelaskan bahwa kesalahan penulisan penomoran bisa diperbaiki.

Baca juga: Formasi CPNS 2021 Bagi Penyandang Disabilitas di Kota Ambon, Ini Jumlah dan Syaratnya

Baca juga: Pemkot Ambon Buka 387 Formasi untuk CPNS dan PPPK 2021, Simak Jadwal dan Alur Pendaftarannya

Halaman
12
Sumber: Tribun Ambon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved