Breaking News:

Kasus Korupsi di Maluku

Kasus Korupsi Taman Kota KKT – Maluku Rugikan Keuangan Negara Hingga Rp 1,38 Milliar

Kasus dugaan tindak pidana korupsi pembangunan taman kota Sumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar merugikan keuangan negara hingga Rp 1,38 milliar.

TribunAmbon.com/ Tanita Pattiasina
Konferensi Pers penahanan tersangka Kasus Korupsi Pembangunan Taman Kota dan Pelataran Parkir Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku di Aula Kejati Maluku, Senin (28/6/2021) 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Tanita Pattiasina

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Kasus dugaan tindak pidana korupsi pembangunan taman kota Sumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar merugikan keuangan negara hingga Rp 1,38 milliar.

Hal tersebut berdasarkan hasl audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Maluku.

“Berdasarkan hasil audit, kerugian negara sebesar Rp 1,38 miliar,” kata Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, Rorogo Zega saat konferensi pers di Aula Kejati Maluku, Senin (28/6/2021) sore.

Rorogo menjelaskanan, proyek tersebut memiliki nilai sebesar Rp 4.517.718.000. Kerugian keuangan negaranya terlihat pada kualitas barang yang digunakan tidak sesuai dengan kontrak.

Baca juga: Dua Tersangka Kasus Taman Kota KKT – Maluku Ditahan

Baca juga: Oknum Dosen Unpatti Terduga Pelaku Penganiayaan Mahasiswi Resmi Dilaporkan ke Polresta Ambon

“Dalam pembangunan taman kota ini, titik-titik kerugian negara ada pada spek barang. Kualitas paving blok tidak sesuai kontrak, jadi kualitas barang yang yang ada dalam pembangunan itu tidak sesuai. Waktu tim kita disana coba kekuatannya, tidak sesuai dengan spek yang harusnya dikerjakan,” tambahnya.

Saat ini, kejaksaan telah menetapkan empat tersangka. Yakni Frans Yulianus Pelamonia, Hartanto Hutomo, Adrianus Sihasale dan Wilelma Fenanlambir.

“Frans Yulianus Pelamonia sebagai pengawas, Wilelma Fenanlambir sebagai DPTK, Hartanto Hutomo selaku Kontraktor Pelaksana PT. Inti Artha Nusantara dan Adrianus Sihasale yang adalah kepala dinas PUPR KKT,” lanjutnya.

Dia menjelaskan pemeriksaan telah dilakukan bagi dua tersangka dan akan dilakukan penahanan selama 20 hari.

“Tersangka Frans dan tersangka Wilelma sudah hadir dan ditetapkan sebagai tersangka, kita akan melakukan penahanan selama dua puluh hari kedepan di Rutan dan Lapas perempuan Kota Ambon,” jelasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved