Breaking News:

Global

Varian Delta Dominasi 90 Persen Kasus Baru Covid-19 di Uni Eropa

Pada akhir Agustus, varian Delta diperkirakan berkontribusi 90 persen terhadap kasus baru Covid-19 di Uni Eropa (UE).

Editor: Adjeng Hatalea
(SHUTTERSTOCK/FunKey Factory)
Ilustrasi perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit. Ilmuwan menilai Covid-19 dapat memicu munculnya jamur super di rumah sakit, yang dapat menginfeksi tenaga kesehatan dan pasien dengan Covid-19 di Brasil. 

SWEDIA, TRIBUNAMBON.COM - Pada akhir Agustus, varian Delta diperkirakan berkontribusi 90 persen terhadap kasus baru Covid-19 di Uni Eropa (UE).

Peringatan itu disampaikan oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) pada Rabu (23/6/2021), di mana Badan Kesehatan Dunia (WHO) pekan lalu juga sudah mengatakan tentang varian Delta yang akan mendominasi kasus Covid-19 dunia.

ECDC memperkirakan bahwa varian Delta (B.1.617.2) 40 hingga 60 persen lebih menular dari pada varian Alpha (B.1.1.7), saat ini menjadi varian utama dari virus corona baru yang beredar di blok UE.

Tingkat penularan yang lebih tinggi membuat Delta menjadi perhatian banyak pemerintah di seluruh Eropa, bahkan ketika sebagian besar negara bergerak untuk melonggarkan pembatasan setelah penurunan keseluruhan kasus Covid-19 baru.

Baca juga: UPDATE Corona di Indonesia; Tambah 7.167 Orang, Pasien Sembuh Tembus Angka 1,8 Juta Per 23 Juni 2021

"Sangat mungkin bahwa varian Delta akan beredar luas selama musim panas, terutama di antara individu yang lebih muda yang tidak ditargetkan untuk vaksinasi," kata ECDC, seperti yang dilansir dari Al Jazeera pada Rabu (23/6/2021). 

“Ini dapat menyebabkan risiko bagi individu yang lebih rentan untuk terinfeksi dan mengalami penyakit parah dan kematian, jika mereka tidak sepenuhnya divaksinasi,” ujarnya.

ECDC mengatakan “sangat penting untuk meningkatkan peluncuran vaksin dengan kecepatan yang sangat tinggi” untuk menghentikan penyebaran varian Delta dan mengurangi dampak kesehatan yang buruk.

Sampai saat ini, sekitar 30 persen dari masyarakat berusia 80 tahun ke atas dan 40 persen di atas 60-an di UE masih belum sepenuhnya divaksinasi, menurut data ECDC.

Studi baru: vaksin efektif lawan Covid-19

Sebagian besar anggota UE belum sepenuhnya menginokulasi sepertiga dari populasi mereka. ECDC juga mendesak negara-negara untuk berhati-hati dalam mengurangi pembatasan yang bertujuan membatasi penyebaran Covid-19.

"Setiap relaksasi selama bulan-bulan musim panas...pada awal Juni dapat menyebabkan peningkatan (infeksi Covid-19) yang cepat dan signifikan dalam kasus harian di semua kelompok umur," kata badan tersebut.

Baca juga: Menkes: 1 Juta Suntikan Vaksin Covid-19 Sehari Tak Cukup, Perlu Naik Jadi 2 Juta

Peningkatan kasus Covid-19 pada gilirannya dapat menyebabkan peningkatan "rawat inap dan kematian, yang berpotensi mencapai tingkat kasus yang sama pada musim gugur 2020, jika tidak ada tindakan tambahan" yang diambil, tambahnya.

ECDC mengatakan 2 dosis vaksin Covid-19 yang disetujui menawarkan "perlindungan tinggi" terhadap varian Delta dan konsekuensinya.

Pernyataan itu datang sebagai hasil studi baru oleh para peneliti Universitas Oxford, yang diterbitkan dalam jurnal Cell, mengatakan vaksin Covid-19 yang dibuat oleh AstraZeneca dan Pfizer tetap efektif secara luas terhadap varian Delta.

Pekan lalu, analisis oleh Public Health England (PHE) juga menunjukkan bahwa vaksin yang dibuat oleh Pfizer dan AstraZeneca memberikan perlindungan lebih dari 90 persen dari varian Delta.

(Kompas.com / Shintaloka Pradita Sicca)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved