Breaking News:

Vaksin Covid19

Vaksin Johnson & Johnson Dinilai Efektif Lawan Semua Varian Covid-19

Laporan yang dikutip The Hill ini menyebut, vaksin Johnson & Johnson mengaktifkan respons imun terhadap galur virus corona asli, serta varian terbarun

Editor: Adjeng Hatalea
-
Ilustrasi vaksin 

WASHINGTON DC, TRIBUNAMBON.COM - Vaksin Covid-19 yang diproduksi Johnson & Johnson disebut bisa menghasilkan beberapa respons kekebalan yang efektif melawan berbagai varian virus. Hal ini jadi temuan terbaru menurut penelitian yang dirilis Rabu (9/6/2021) di Nature.

Laporan yang dikutip The Hill ini menyebut, vaksin Johnson & Johnson mengaktifkan respons imun terhadap galur virus corona asli, serta varian terbarunya seperti Alfa, Beta, Gamma, dan Epsilon.

Kesimpulannya, vaksin Johnson & Johnson "menawarkan perlindungan yang kuat terhadap kasus gejala Covid-19", baik di Afrika Selatan atau Brasil, di mana variannya telah menyebabkan sebagian besar kasus.

Para peneliti mempelajari antibodi dan respons imun seluler dari 20 sukarelawan yang berusia antara 18 dan 55 tahun.

Studi ini memang menemukan bahwa antibodi yang menetralkan, muncul lebih sedikit ketika melawan varian Beta dan Gamma, varian yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan dan Brasil.

Antibodi penetral muncul lebih sedikit dibanding saat diuji dengan strain Covid-19 asli. Karena itu untuk varian Gamma, antibodi dikembangkan 3,3 kali lebih sedikit.

Sementara mereka yang memiliki galur Beta, menghasilkan antibodi penetral lima kali lebih sedikit daripada galur aslinya. Tapi, untuk semua varian, antibodi non-penetralisir dan respons imun sel T sebagian besar tetap dipertahankan.

Hal tersebut, menurut peneliti, bisa menunjukkan bagaimana respons imun melindungi tubuh dari Covid-19 dan variannya.

Studi ini juga menyebutkan bahwa dosis tunggal Johnson & Johnson bisa melindungi dari Covid-19 yang parah. Ini sudah diujikan pada 86 persen peserta di AS, 88 persen di Brasil, dan 82 persen di Afrika Selatan.

Sejak Food and Drug Administration mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat vaksin Johnson & Johnson Februari lalu, lebih dari 11,2 juta dosis vaksin telah diberikan di AS.

Pada April, pejabat kesehatan memang sempat merekomendasikan jeda dalam memberikan vaksin Johnson & Johnson setelah terjadi kasus pembekuan darah.

Tapi, pihak berwenang kemudian menentukan bahwa manfaat vaksinnya jauh lebih besar dibanding risikonya, hingga akhirnya mencabut rekomendasi jeda.

(Kompas.com / Tito Hilmawan Reditya / Ardi Priyatno Utomo)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved