Breaking News:

Global

Myanmar Masih Krisis, Junta Militer Dapat Investasi Rp 39 Triliun

Junta militer Myanmar menyetujui investasi baru senilai hampir 2,8 miliar dollar AS (Rp 39 triliun) untuk berbagai proyek.

Myanmar Masih Krisis, Junta Militer Dapat Investasi Rp 39 Triliun
(AP PHOTO/SAKCHAI LALIT)
Warga negara Myanmar yang tinggal di Thailand memegang foto yang mengecam Panglima Tertinggi militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing, selama protes di depan gedung PBB di Bangkok, Thailand, Rabu (3/2/2021).

NAYPYIDAW, TRIBUNAMBON.COM - Junta militer Myanmar menyetujui investasi baru senilai hampir 2,8 miliar dollar AS (Rp 39 triliun) untuk berbagai proyek.

Dalam investasi tersebut, ada proyek pembangkit listrik tenaga gas alam cair yang akan menelan biaya 2,5 miliar dollar AS (Rp 35 triliun).

Menurut situs web Direktorat Investasi dan Administrasi Perusahaan, Komisi Investasi Myanmar pada Jumat (7/5/2021) menyetujui investasi untuk 15 proyek.

Pengumuman itu muncul ketika sebagian besar perekonomian Myanmar dilumpuhkan oleh aksi protes dan pemogokan sejak militer merebut kekuasaan pada 1 Februari melalui kudeta.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Maluku Senin 10 Mei 2021, Kota Ambon Diguyur Hujan Ringan dan 6 Kota Lain

Badan pemeringkat kredit internasional Fitch Solutions memperkirakan, perekonomian Myanmar akan berkontraksi sebesar 20 persen tahun ini.

Selain proyek pembangkit listrik, investasi tersebut akan mencakup proyek lain seperti peternakan, manufaktur, dan sektor jasa sebagaimana dilansir Reuters.

Situs web Direktorat Investasi dan Administrasi Perusahaan tidak memberikan rincian terkait perusahaan di balik proyek tersebut atau dari negara mana mereka berasal.

Dalam beberapa tahun terakhir, investor terbesar di Myanmar adalah China, Singapura, dan Thailand.

Meski demikian, sebagian besar investasi dari Singapura telah disalurkan dari tempat lain. Sebagian besar pembangkit listrik di Myanmar saat ini dihasilkan dari proyek pembangkit listrik tenaga air.

Kini, pembangkit listrik tenaga gas alam cair dipandang semakin penting bagi negara yang ekonominya telah berkembang pesat selama satu dekade pasca-reformasi demokrasi.

(Kompas.com / Danur Lambang Pristiandaru)

Editor: Adjeng Hatalea
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved