Breaking News:

Nasional

AJI: Ada 14 Serangan Digital terhadap Jurnalis dan Media Sepanjang 2020-2021

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat ada 14 kasus serangan digital yang dialami jurnalis dan media sepanjang periode 2020-2021.

Freepik
Ilustrasi hacker 

JAKARTA, TRIBUNAMBON.COM - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat ada 14 kasus serangan digital yang dialami jurnalis dan media sepanjang periode 2020-2021.

"Catatan kami ada 14 kasus teror berupa serangan digital, 10 jurnalis menjadi korban, 4 media online," ujar Ketua Divisi Advokasi Erick Tanjung dalam Peluncuran Catatan AJI atas Situasi Kebebasan Pers di Indonesia 2021, Senin (3/5/2021).

Adapun jenis serangan yang dialami jurnalis dan media meliputi 8 kasus doxing, 4 kasus peretasan, dan 2 kasus distribused denial-of-service (DDos).

Salah satu contoh kasus doxing adalah yang dialami salah satu jurnalis Detik.com pada 2020.

Saat itu, jurnalis tersebut memberitakan rencana Presiden Joko Widodo meninjau kegiatan new normal di salah satu mall di Bekasi. Setelah melakukan kegiatan jurnalistiknya, wartawan tersebut dipersekusi.

Salah satu aplikasi yang digunakannya pun diretas hingga mengancam kenyamanan dan keselamatan jurnalis.

Baca juga: Gelar Pasar Murah Secara Mobile, Disperindag Maluku Sasar 35 Titik

Selain itu, kasus doxing juga dialami salah satu jurnalis Liputan6.com di Kendari pada Maret 2021.

Jurnalis menerima serangan digital terkait pemberitaan berjudul "Mencari Keadilan Ratusan Orang Duduki Polres Konawe Sambil Pamer Parang".

Setelah ditelusuri, ancaman tersebut ditebar salah satu organisasi masyarakar (ormas) setempat yang tidak terima dengan pemberitaan ini.

"Akhirnya jurnalis ini di-doxing, datanya disebarkan, dia juga mengalami ancaman sampai diteror," kata Erick.

Selain itu, kasus yang tidak kalah menyita perhatian adalah kasus doxing terhadap Ketua AJI Bandar Lampung, Hendry Sihaloho.

Ia menerima doxing saat mendampingi panitia diskusi Unit Kegiatan Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung yang mendapatkan teror karena hendak menggelar diskusi bertema rasisme Papua.

(Kompas.com / Achmad Nasrudin Yahya / Bayu Galih)

Editor: Adjeng Hatalea
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved