Breaking News:

Kasus PLTG Namlea

Kronologi Pengusaha Ferry Tanaya Jadi Tersangka Korupsi: Gara-gara Jual Tanahnya ke PLN Maluku

Ferry Tanaya terjerat dalam kasus tindak pidana korupsi (tipikor) pembangunan Perusahaan Listrik Tenaga Gas Namlea.

TribunAmbon.com/Salama
MALUKU - Pengusaha Ferry Tanaya kembali dite¬¬tapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pembelian lahan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) 10 megawatt di Namlea, Kabupaten Buru, Maluku. 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Tanita Pattiasina

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Ferry Tanaya, pemilik lahan seluas 48.645,5 meter persegi terjerat dalam kasus tindak pidana korupsi (tipikor) pembangunan Perusahaan Listrik Tenaga Gas Namlea.

Dia terlibat kasus korupsi lantaran menjual lahan miliknya kepada PT. PLN Unit Induk Maluku pada tahun 2016.

Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, Rorogo Zega mengatakan lahan yang dibeli Tanaya itu merupakan tanah erfpacht sehingga dia tidak sah menerima ganti rugi sejumlah Rp 6.081.722.920.

“FT tidak memiliki hak untuk menerima ganti rugi atas tanah tersebut seluas 48.645,5 meter persegi itu,” kata Rorogo kepada wartawan di Aula Kejati Maluku, Selasa (27/4/2021) lalu.

Baca juga: Kunjungi Garut, Wakil Rakyat Kota Ambon Beri Hadiah Obat Tangkal Corona

Rorogo mengatakan, tanah tersebut merupakan tanah erfpacht dengan pemegang hak tanah atas nama Zadrach Wakano.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, Rorogo Zega saat konferensi pers di Kantor Kejati Maluku, Rabu (10/3/20210).
Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, Rorogo Zega saat konferensi pers di Kantor Kejati Maluku, Rabu (10/3/20210). (TribunAmbon.com/ Tanita Pattiasina)

Ferry Tanaya membeli tanah tersebut dari ahli waris yakni A. Wakano usai sepeninggalannya Zadrach Wakano.

“Pemegang hak erfpacht ini adalah Wakano. Almarhum meninggal pada 28 oktober 1981, selanjutnya pada tanggal 7 agustus 1985 dibuat transaksi antara anaknya kepada Tanaya. Jadi yang menjual belikan tanah ke pemilikan ini kepada Tanayaadalah ahli warisnya sebagaimana tertuang pada akta jual beli nomor 14 tahun 1985 di hadapan doktorandus Urada selaku kepala wilayah kecamatan Buru,” jelasnya.

Rorogo menambahkan, setelah meninggal pemegang hak yakni Zadrach Wakanno maka selesailah disitu hak erfpacht itu.

Baca juga: Begini Ketentuan Mudik Menurut Satgas Covid 19 Kota Ambon

Menurutnya, tanah tersebut hanya bisa dikonversi pemegang hak, bukan orang lain.

Halaman
1234
Penulis: Tanita Pattiasina
Editor: Salama Picalouhata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved