Breaking News:

Ambon City of Music

Bicara City Of Music, Musisi Hip Hop Tagih Bayaran dari Pemkot Ambon

Penyanyi Hip-hop Kota Ambon, Michael Ruhulessin (Mic-L), minta Pemerintah Kota Ambon, penuhi bayaran yang belum terselesaikan hingga saat ini.

ISTIMEWA
AMBON: Penyanyi Hip-hop Kota Ambon, Michael Ruhulessin (Mic-L) 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Dedy Azis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Penyanyi Hip-hop Kota Ambon, Michael Ruhulessin (Mic-L), minta Pemerintah Kota Ambon, penuhi bayaran yang belum terselesaikan hingga saat ini.

Upah yang harus dibayarkan atas penampilan dirinya dan musisi lainnya saat pencanangan Ambon City of Music, Oktober hingga awal November 2019.

“Waktu awal Ambon dicanangkan sebagai kota Musik dunia, di setiap sudut Kota Ambon tersedia panggung-panggung penyanyi, dan hingga saat ini, penyanyi yang tampil itu belum juga di bayar oleh Pemkot,” ungkap Mic-L kepada TribunAmbon.com, melalui sambungan telepon, Minggu (11/4/2021) siang.

Dia pun khawatir kewajiban Pemkot itu akan gugur seiring pergantian kepemimpinan akan kota berjuluk manise ini.

Untuk itu dia tegas menuntut tanggung jawab pemerintah akan hak para musisi itu.

Menurutnya, predikat City Of Music harus seiring dengan kesejahteraan musisi.

Jika itu tidak diperhatikan maka misi Kota Musik Dunia hanya akan menjadi harapan.

“Pemkot jangan hanya mau kejar predikat City Of Music saja, tapi sejahterakan juga musisi lokal indie di Kota Ambon, selesaikan pembayaran kepada musisi lokal indie yang belum terbayarkan,” ujarnya.

Lanjutnya, Ambon sebagai kota musik dunia belum memiliki standarisasi bayaran atau upah minimum kepada penyanyi telah terdaftar atau tersertifikasi oleh Ambon Music Office (AMO).

“Kita sendiri belum memiliki standarisasi bayaran yang pasti kepada penyanyi-penyayi yang tersertifikasi di AMO,” kata dia.

Mic-L menambahkan jika ada standarisasi yang tepat, maka menyanyi di acara kecil sekalipun sudah ada standar bayaran yang menguntungkan musisi.

“Kalau misalnya saya menyanyi di acara ulang tahun saudara saya, maka secara professional saya juga harus dibayar. Tapi sampai saat ini memang belum ada standarnya,” kata dia.

Terakhir, Ia memberikan gambaran tentang kota musik lainnya di dunia, yakni Kota Ghent, Belgia, yang memiliki upah minimum kepada musisi-musisi yang ada di kota tersebut.

“Kita contoh, musisi di belgia sana, mereka tampil di acara apapun sudah ada upahnya, dibayar berapa per lagunya. untuk Ambon, jangan dulu bahas Royalti kepada penyanyi berlabel dari ibukota sana, tapi selesaikan yang menjadi hak penyanyi,” tandasnya.(*)

Penulis: Ode Dedy Lion Aziz
Editor: Adjeng Hatalea
Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved