Breaking News:

Global

14 Negara Menyatakan Kekhawatiran atas Studi WHO tentang Asal-usul Covid-19 di Wuhan

Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara lain pada Selasa (30/3/2021) menyuarakan kekhawatiran atas studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang asa

14 Negara Menyatakan Kekhawatiran atas Studi WHO tentang Asal-usul Covid-19 di Wuhan
(AFP PHOTO/HECTOR RETAMAL)
Peter Ben Embarek dan Marion Koopmans konfirmasi pers untuk menutup kunjungan tim ahli internasional dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di kota Wuhan, di provinsi Hubei China pada 9 2021.

JENEWA, TRIBUNAMBON.COM - Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara lain pada Selasa (30/3/2021) menyuarakan kekhawatiran atas studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang asal-usul Covid-19.

Pernyataan bersama dari negara-negara tersebut menyerukan pembaruan komitmen oleh WHO dan semua negara anggota WHO untuk akses, transparansi, dan ketepatan waktu atas penelitian Covid-19.

Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh lebih dari selusin pemerintah, yaitu AS, Australia, Kanada, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Israel, Jepang, Latvia, Lituania, Norwegia, Republik Korea, Slovenia, dan Inggris.

Pernyataan bersama itu menegaskan bahwa misi WHO sangat penting untuk memajukan kesehatan global dan keamanan kesehatan.

Semua pihak tersebut menyatakan dukungan penuh para ahli dan stafnya, serta mengakui kerja tak kenal lelah mereka untuk mengakhiri pandemi Covid-19, termasuk memahami bagaimana pandemi dimulai dan menyebar.

"Dengan mandat yang begitu penting, sama pentingnya bagi kami untuk menyuarakan keprihatinan bersama bahwa studi pakar internasional tentang sumber virus SARS-CoV-2, yang secara signifikan mengalami penundaan dan tidak mendapat akses ke data dan sampel yang lengkap dan asli," pernyataan bersama itu.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Selasa mengatakan, tim ahli internasional yang ditugaskan untuk melakukan perjalanan ke Wuhan, China, mengalami masalah dengan akses data.

"Dalam diskusi saya dengan tim, mereka mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi dalam mengakses data mentah," ujarnya saat bertemu dengan negara anggota.

"Saya berharap studi kolaboratif di masa mendatang mencakup berbagi data yang lebih tepat waktu dan komprehensif."

Menurut Tedros, untuk memahami kasus paling awal, para ilmuwan akan mendapatkan keuntungan dari akses penuh ke data termasuk sampel biologis, setidaknya dari data September 2019.

Halaman
12
Editor: Adjeng Hatalea
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved