Breaking News:

Buronan Korupsi

Buron Selama 7 Tahun, Terpidana Korupsi Ong Onggianto Ditangkap di Royal Apartement Makassar

Lelaki 39 tahun ini merupakan buronan Kejaksaan Tinggi Maluku. Dia masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak tujuh tahun lalu.

Courtesy/ Kejati Maluku
Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Agung RI bersama Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku berhasil mengamankan buronan tindak pidana korupsi atas nama Ong Onggianto, Selasa (9/3/2021). 

TRIBUNAMBON.COM – Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Agung RI bersama Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku berhasil mengamankan buronan tindak pidana korupsi atas nama Ong Onggianto.

Lelaki 39 tahun ini merupakan buronan Kejaksaan Tinggi Maluku.

Dia masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak tujuh tahun lalu.

Dia ditangkap di Royal Apartement Lantai 26 Kamar 03 Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (9/3/2021).

"Terpidana Ong Onggianto Andreas diamankan di Royal Apartement Lantai 26 Kamar 03 Kota Makassar, Sulawesi Selatan setelah sebelumnya melarikan diri sejak tahun 2014," kata Kapuspenkum Kejaksaan Agung RI Leonard Eben Ezer Simanjuntak.

Baca juga: Politisi Nasdem di Maluku Tengah Diduga Terlibat Kasus Korupsi Dana Desa

Baca juga: 3 Tersangka Pembunuh Mahasiswa Unpatti Masih di Bawah Umur, 1 Berstatus DPO

Terpidana Onggianto merupakan Direktur CV Aneka.

Dia bersama Kepala Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Maluku Samuel Kololu dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Hanny Samallo diduga telah melakukan tindak pidana korupsi.

Yakni, membuat dan menandatangani Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) fiktif tahun 2010 di BLK Maluku untuk kegiatan yang belum tercantum dalam DIPA.

SPMK fiktif itu disebutkan untuk pengadaan obat dan pembekalan Kesehatan, peralatan Laboratorium dan peralatan pemeriksaan Napza pada Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Maluku yang dibiayai APBD Tahun Anggaran 2010 telah diajukan oleh Terdakwa untuk jaminan kredit di Bank Maluku.

"Setelah kredit cair ternyata tidak bisa dibayar karena pekerjaan sebagaimana tercantum dalam SPMK tidak ada, dan akibat perbuatan Terdakwa telah merugikan keuangan daerah sebesar Rp 2,25 miliar," jelas dia.

Berdasarkan putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 1713 K/Pid.Sus/2013 tanggal 15 Januari 2014, Terpidana Ong Onggianto Andreaa dijatuhi pidana penjara selama 5 tahun serta dihukum membayar denda sebesar Rp 300 juta subsidiair 6 bulan kurungan dan dihukum membayar uang pengganti Rp. 516 juta subsidiair 1 bulan.

Terpidana kini telah diserahkan kepada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku untuk menjalankan proses eksekusi sesuai dengan putusan Mahkamah Agung RI. (*)

Penulis: Mesya Marasabessy
Editor: Salama Picalouhata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved