Breaking News:

Emisi Karbon

10 Tahun Mendatang Kota Ambon Diprediksi Akan Terabrasi

Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang, Kota Ambon diprediksikan akan terabrasi jika tidak mengendalikan emisi karbon.

TribunAmbon.com/Dedy
AMBON: Guru Besar Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura. Prof. Agustinus Kastanya di ruang kerjanya di Gedung Fakultas Pertanian dan Kehutanan , Senin (1/3/20210. 

Laporan Wartawan, TribunAmbon.com, Dedy Azis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM –  Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang, Kota Ambon diprediksikan akan terabrasi jika tidak mengendalikan emisi karbon.

Hal ini disampaikan Guru Besar Universitas Pattimura Ambon, Prof. Agustinus Kastanya saat diwawancarai TribunAmbon.com di ruang kerjanya di Gedung Fakultas Pertanian dan Kehutanan kampus tersebut, Senin (1/3/20210.

Beberapa alasan mendasar disebutkannya dalam wawancara tersebut. Di antaranya, penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Adapun lima penghasil emisi karbon terbesar di dunia, sebut dia.

Misalnya, deforestasi dan penggunaan energi berbahan dasar fosil.

“Ada 5 penghasil emisi karbon terbesar saat ini, yaitu, pada bidang kehutanan, bidang pertanian, bidang industry, energy dan pembuangan limbah,” sebut Kastanya.

Menurut dia, di Kota Ambon sendiri darurat pada bidang kehutanan (deforestasi) dan energi (penggunaan BBM berbahan dasar fosil).

Ia mengatakan, masyarakat bersama Pemerintah Kota Ambon harus mulai bijak dalam pembangunan dan penggunaan eneri BBM berbahan dasar fosil.

“Dampak langsung dari emisi karbon, polusi udara yang mengendap di lautan ditambah polutan yang banyak di lautan, akan menguap sehingga terjadi perubahan iklim yang tidak menentu terlebih pemanasan global dan pantai-pantai Ambon bisa terabrasi. Belum lagi ikan terkontaminasi kemudian dimakan oleh manusia akan menimbulkan banyak penyakit,” terang dia.

Hal tersebut dia katakan berdasarkan Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC ) dan United Nation Framework Convention on Climate Change  (UNFCCC) yang menetapkan proses perubahan pemanasan karena emisi.

“Sekarang tidak ada satu negara pun yang bisa mengatasi emisi, hal ini disepakati setelah pertemuan paris di tahun 2015,” ujarnya.

Dia mengajak masyarakat luas, terlebih pemerintah sebagai pembuat regulasi agar lebih bijak dalam perluasan lahan maupun penggunaan BBM.

Hal ini tentu saja untuk mengurangi risiko terjadinya abrasi di pulau berjuluk manise ini.

"kita harus mulai bijak dalam perluasan lahan maupun pemakaian BBM, agar laut dan udara kita tidak tercemar oleh polutan," lanjutnya.

Penulis: Ode Dedy Lion Aziz
Editor: Adjeng Hatalea
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved