Breaking News:

Maluku Terkini

Bela Istri Bupati, Aliansi Peduli Adat Kei Nyatakan Siap Mati Demi Perempuan

FPLRM dalam aksi yang dipimpin Jumri Rahantoknam itu mendesak Kejati Maluku segera menyelidiki dugaan korupsi yang menyeret nama istri Bupati Malra,

TribunAmbon.com/ Mesya Marasabessy
Puluhan Aliansi Peduli Adat Kei di Tribun Lapangan Merdeka, Ambon, Kamis (18/2/2021) 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Mesya Marasabessy

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Aliansi Peduli Adat Kei tuding aksi Forum Penyambung Lidah Rakyat (FPLRM) merusak tatanan adat lantaran dinilai telah menghinakan perempuan, yang tidak lain adalah Eva Elia, istri Bupati Maluku Tenggara.

“Saya yang bertanggung jawab karena kita pertahankan budaya dan adat, tanah dan perempuan, kami siap mati demi perempuan,” tegas Ketua Aliansi Peduli Adat Kei, Amirudin Suat kepada wartawan di kawasan Lapangan Merdeka Ambon, Kamis (18/2/2021).

Dia pun mengecam aksi FPLRM di depan Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku (Kejati), Kamis (11/2/2021) siang itu.

FPLRM dalam aksi yang dipimpin Jumri Rahantoknam itu mendesak Kejati Maluku segera menyelidiki dugaan korupsi yang menyeret nama istri Bupati Maluku Tenggara, Taher Hanubun.

Dalam aksi itu, pengunjukrasa meneriaki dugaan keterlibatan Evie dalam proyek jalan lintas Trans Kei Besar yang terbengkalai, termasuk penggunaan dana Covid-19 sebesar Rp 59 miliar.

Amirudin menegaskan tudingan FPLRM itu tidak beralasan dan dengan sendirinya telah menghinakan perempuan yang seharunya dijaga harkat dan martabatnya.

”Kami mengutuk keras sikap yang disampaikan para orator tersebut menurut kami tindakan dan sikap yang dilakukan itu merupakan salah satu sikap yang merusak adat istiadat Larvul Ngabal,” ujarnya.

Baca juga: Konsep Drive Thru Rapid Antigen di Ambon Masih Pakai Model Konvensional

Larvul Ngabal adalah hukum adat yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Kepulauan Kei dan menjadi prinsip-prinsip dasar yang melandasi adat-istiadat.

Serupa dengan itu, Koordinator Aliansi Peduli Adat Kei, Ruslan Sermaf menyayangkan aksi itu.

Dia pun meminta para orator FPLRM segera menyampaikan permohonan maaf secara langsung maupun secara tertulis serta tidak melakukan aksi serupa dikemudian hari.

“Yang kami sesalkan dari aksi itu adalah indikasi penghinaan terhadap perempuan Kei,” ucap Ruslan. (*)

Penulis: Mesya Marasabessy
Editor: Fandi Wattimena
Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved