Breaking News:

Curahan Hati Dokter yang Tangani Pasien Covid-19: Rutin Jadi Saksi Kematian, Akui Mati Rasa

Karena terlalu seringnya, dr. Gia Pratama, salah seorang personel tenaga kesehatan yang melakukan penanganan Covid-19 mengaku telah mati rasa.

freepik
ilustrasi tenaga medis COVID-19 

Fase kedua adalah fase ketika para pasien harus melakukan isolasi mandiri.

Fase ini juga merupakan saat yang berat bagi pasien, sebab tidak ada seorang pun, baik keluarga maupun kawan-kawannya, yang dapat menjenguk.

Peran tenaga kesehatan pun bertambah, untuk menjadi kawan bahkan keluarga dari para pasien.

“Kan enggak ada yang bisa jenguk kan. Jadi kita udah jadi keluarga keduanya. Visit gitu-gitu. Mantau kayak bagaimana kondisinya,” jelas Gia.

Selanjutnya, fase ketiga, yang merupakan ujung dari pengalaman Covid-19 para pasien, memiliki dua kemungkinan, yakni sembuh atau meninggal dunia.

Baca juga: Kakek Berusia 76 Tahun jadi Korban Meninggal Covid-19 ke-45 di Ambon

Baca juga: Cegah Penyebaran Corona di Ambon, Jemaat GPM Lateri Bentuk Tim Satgas COVID-19

“Kalau sembuh itu happy banget. Dia pulang, sehat, sudah negatif, dadah-dadah seneng banget, itu kayaknya.. Aduh enggak usah dibayar juga enggak apa-apa deh,” tukas Gia.

Namun, di samping itu, terdapat kemungkinan bahwa pasien dapat meninggal dunia.

“Fase ketiga ada opsi meninggal dan itu opsi yang paling berat, harus ngasih tahu keluarganya,” ungkap Gia.

Apalagi, keluarga pasien yang meninggal sebab Covid-19 pun tidak dapat memakamkan mereka layaknya pemakaman pada umumnya.

“Meninggalnya pun mereka tidak bersama dengan keluarga kan mereka. Itu fase yang berulang. Itu bikin stress banget,” tambah Gia

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved