Breaking News:

Virus Corona

Produktif di Tengah Pandemi Covid-19, Pemuda di Hitu Maluku Tengah Bikin Kebun Sayur

Menurunnya tingkat pendapatan akibat pandemi Covid-19 tidak lantas membuat sekelompok anak muda ini pasrah dengan keadaan.

Kontributor TribunAmbon.com, Fandy
Produktif di Tengah Pandemi Covid-19, Pemuda di Hitu Maluku Tengah Bikin Kebun Sayur 

Laporan Kontributor TribunAmbon.com, Fandi

TRIBUNAMBON.COM - Menurunnya tingkat pendapatan akibat pandemi Covid-19 tidak lantas membuat sekelompok anak muda ini pasrah dengan keadaan.

Lahan tidur seluas 30 meter persegi pun disulap menjadi kebun sayur organik oleh para pemuda asal Desa Hitu, Maluku Tengah ini.

"Kebetulan juga ada lahan kosong. Sayang kan klo tidak dimanfaatin," cetus pemuda tani,  Safril Pelu, Kamis pagi (19/8/2020).

Meski digarap secara swadaya dengan segala keterbatasan. Namun, panen perdana kebun yang ditanami sayur sawi ini cukup memuaskan. Lebih dari 50 ikat sayuran organik didapat dari delapan bedengan yang digarap.

“Hasil panen perdana tidak kami jual, melainkan dibagikan gratis untuk penghulu masjid juga warga. Yah, hitungan promo lah,” ujararnya.

Lanjutnya, untuk panen berikutnya barulah kami jual dengan menyasar pasar setempat. Hasilnya, untuk kebutuhan pengembangan kebun serta anggota tani.

Meski menjadi pilihan alternatif ditengah pandemi, namun berkebun dinilai cukup membantu mereka untuk keluar dari jenuh akibat pembatasan sosial, terlebih lagi untuk urusan keuangan.

Produktif di Tengah Pandemi Covid-19, Pemuda di Hitu Maluku Tengah Bikin Kebun Sayur
Produktif di Tengah Pandemi Covid-19, Pemuda di Hitu Maluku Tengah Bikin Kebun Sayur (Kontributor TribunAmbon.com, Fandy)

“kami sudah hitung-hitungan, modal juga tidak seberapa, namun bisa meraih untung yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Meski begitu, membangun kebun dengan modal terbatas bukan tanpa kendala. Pengairan jauh dari memadai, sehingga mereka harus kerja ekstra untuk menyediakan kebutuhan air yang mencapai 150 liter  air setiap harinya.

“Kita belum punya mesin penyedot air. Sementara, Jarak sumber dengan kebun sekitar 50 meter. Jadi harus naik turun bukit ambil air menggunakan cerigen ukuran lima liter pada pagi dan sore hari,” ungkapnya.

Selain pengairan, pengetahuan bertani juga menjadi kendala yang perlahan dijawab dengan pembelajaran otodidak melalui internet.

Dia dan pemuda tani lainnya pun yakin, kendala yang ada akan terselesaikan dengan semangat dan kerja keras.

“Paling tidak, kebun ini bisa menjadi percontohan untuk pemuda lainnya agar tetap produktif ditengah pandemi,” tandasnya.

(*)

Editor: Maria Sorenada Garudea Prabawati
Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved