Virus Corona di Ambon

Melawan Corona: Sebuah Potret Perjuangan Tanpa Batas Tenaga Medis Puskesmas di Ambon

Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIT ketika matahari belum begitu terik, terlihat antrean berjarak para warga di depan pintu masuk Puskesmas di Ambon.

(Laporan Kontributor TribunAmbon.com, Adjeng)
Pelayanan yang dilakukan oleh paramedis di Puskesmas Tawiri terhadap pasien yang datang dengan berbagai keluhan. 

Dia mengakui kriteria ini diturunkan dari Dinas Kesehatan Kota Ambon.

Sementara menurut dokter lulusan Fakultas Kedokteran Hang Tuah, Surabaya ini sesuai dengan kriteria dari World Health Organization (WHO), siapapun yang telah melakukan perjalanan di daerah terpapar covid-19 sudah pasti disebut ODP.

Namun, dia tetap menjalankan protokol yang telah ditentukan di regional, dan tetap melakukan pemantauan kepada para pelaku perjalanan di kawasan binaan Puskesmas Tawiri ini.

Sambil menyusuri setiap sudut Puskesmas dan memperkenalkan staf medis yang bertugas di setiap ruangan, dia bercerita tentang salah satu keluarga di kampung Baru, Desa Laha yang baru saja kembali dari Pulau Jawa menggunakan kapal laut.

Dia menuturkan, setibanya di rumah, keluarga ini bukannya melakukan karantina mandiri dengan tidak keluar rumah.

Justru salah satu dari mereka keluar rumah dengan tujuan membagikan ole-ole.

Warga sekitar bukannya senang malah geram, kemudian melapor ke Puskesman agar segera dilakukan pemeriksaan secara medis.

Dari hasil pemeriksaan, dua di antaranya ditetapkan sebagai ODP dengan gejala batuk dan pilek.

Di sisi lain, lanjut dia, keluarga ini mendapatkan stigma buruk dari warga sekitar.

Ada yang menjauhi mereka, hingga mereka merasa dikucilkan oleh warga sekitar, serta memaksa pihak Puskesmas agar mereka segera dibawa ke Rumah Sakit untuk diisolasi.

Apa Itu Virus Corona? Berikut Gejalanya hingga Waktu yang Tepat untuk Menghubungi Dokter

Harga BBM Belum Turun di Tengah Pandemi Covid-19, Dirut Pertamina: Ketetapan Ada di Pemerintah

VIRAL Dua Mahasiswa Asia Dianiaya Secara Brutal hingga Diseret ke Tanah, Diduga Rasisme Covid-19

Namun, sesuai prosedur mereka tetap dipantau sambil menunggu hasil lab karena keluhannya tidak begitu parah dan lebih aman melakukan isolasi mandiri di rumah untuk saat ini.

"Pemahaman masyarakat tentang covid-19, termasuk apa itu ODP, PDP dan OTG ini kan masih kurang," Tutur dr. Hasni yang juga bekerja sebagai dokter perusahan di Airnav Ambon ini.

Untuk itu, tambah dia, perlu dilakukan peningkatan pemahaman kepada masyarakat melalui sosialisai.

Setidaknya seminggu sekali dokter yang dikenal sangat cekatan ini turun langsung ke lapangan dengan staf medisnya untuk menjelaskan secara sederhana kepada masyarakat tentang hal-hal yang berkaitan dengan covid-19 termasuk pencegahannya.

Pagi itu, sebelum berangkat ke desa sasaran sosialisasi, tepat pukul 10.00 WIT, dengan melibatkan semua paramedis dan pengunjung puskesmas, mereka berjemur di bawah terik matahari pagi selamat 15 menit.

dr. Hasni sempat bergurau tidak hanya dengan staf nya namun juga para ibu-ibu yang ikut berjemur sebelum akhirnya ia meninggalkan Puskesmas menuju Desa Laha.

Tribunambon.com masih mengikuti aktivitas dokter yang pernah menjadi dosen di Akper RST Kota Ambon ini.

Kurang lebih 1 jam 30 menit berlalu, imbauan demi imbauan dia serukan melalui pengeras suara yang dipasangkan di bagian luar mobil ambulans itu.

Dari balik jendela mobil, terlihat warga keluar di teras rumah dan mendengarkan secara seksama. Dia berharap pesan itu tersampaikan.

Pukul 12 siang, sudah waktunya makan siang.

Lokasi Puskesmas yang lumayan jauh dari pemukiman membuat paramedis ini kesulitan memperoleh makan siang mereka, apalagi di tengah pandemi ini.

Salah satu ruangan di Puskesmas dijadikan dapur, untuk lauk mereka peroleh dari kebun di belakang gedung puskemas, ada ragam komoditi di sana.

Siang itu, menunya khas Ambon, seperti papeda, ikan kuah kuning dan umbi-umbian. Usai melahap makan siang, obrolan dengan Tribunambon.com berlanjut hingga satu per satu staf dan perawat meninggalkan Puskesmas.

dr. Husni menuturkan seperti apa dia menjalani hari-hari nya yang sibuk sambil melawan penyakit asma yang dideritanya.

"Saya tiap minggu suntik vitamin C, injeksi langsung. Saya dari Puskesmas langsung ke Airnav lakukan pemeriksaan untuk mereka yang di tower, pulang sampai rumah langsung buka praktek, seminggu sekali saya di Balai Diklat Perikanan. Praktek di rumah dari jam 5 sore sampai jam 9 malam. Biasanya saya gak langsung tutup, takutnya ada yang butuh beli obat,". Tutur dr. Hasni.

Akan tetapi, setelah adanya wabah virus corona ini, dia harus menutup separuh dari tempat prakteknya. Dia mengaku ada ketakutan luar biasa dalam dirinya.

Di awal pembentukan tim khusus covid-19 di Puskesmas juga ada penolakan dari beberapa staf medis, hingga dia harus berulang kali memberikan penjelasan.

Meski dengan ketakutan itu, dia menawarkan diri untuk menjadi relawan tenaga medis covid-19 di RSUP, karena jiwa nya terpanggil untuk melakukan pekerjaan kemanusiaan itu.

Sempat tidak diijinkan oleh suaminya, namun dia terus meyakinkan suaminya.

Satu hal yang diakui ibu dari tiga anak ini adalah waktunya semakin menipis dengan keluarga terutama anak-anak.

Ketika pulang di rumah dia tak bisa langsung berbaur dengan anak-anaknya. Sudah barang wajib untuk melakukan ritual membersihkan diri sebelum akhirnya berbaur.

"Begitu tiba di rumah, saya langsung menuju kamar mandi, bersihkan diri, baju yang dipake langsung dicuci. Setelah itu baru bisa ketemu anak-anak," Jelas dia.

Pimpinan yang dikenal bijaksana di mata para staf nya ini mengaku pernah membayangkan skenario terburuk covid-19 ini.

Apalagi begitu banyak tenaga medis yang tumbang, mereka yang menjadi pejuang di garis depan, satu per satu terpapar corona virus.

Beruntung yang masih bisa terselamatkan, namun tak sedikit yang dihantarkan ke peristirahatan terakhir, tanpa berpamitan dengan keluarga.

Dia kemudian meminta kepada suami nya "Pah, kalau seandainya ini di Ambon terus terjadi peningkatan, tolong bikinkan saya kamar sendiri di tempat praktek di lantai bawah, dan kita pisah untuk sementara," Pinta dia, yang dibalas dengan penolakan keras dari suaminya.

Dia mengaku kesulitan memberikan pemahaman kepada suaminya yang notabene nya bukan dari bidang yang sama dengannya.

Beruntung dengan sabar, akhirnya berhasil meyakini suaminya.

dr. Hasni dikenal sebagai tipikal pemimpin yang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya, bertanggung jawab dan bijaksana, tegas dalam mengambil keputusan.

"Pekerjaan kami semua di sini berhubungan satu sama lain, beliau bisa mengkoordinir itu dengan baik," Kata salah satu perawat yang juga merangkat petugas laboratorium, Rajab.

Dia mengaku sudah bekerja dengan dr. Hasni kurang lebih dua tahun.

Dengan beban tanggung jawab yang bertambah di tengah pandemi covid-19 ini, Rajab mengaku tidak ada intensif tambahan yang dikhususkan untuk
paramedis yang petarung nyawa ini.

Di akhir wawancara bersama Tribunambon.com, dr. Hasni yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Maluku ini berharap semoga ada sistim yang utuh yang dibangun oleh semua pihak dalam upaya pencegahan dan penanganan covid-19 di Maluku.

Dia menilai pemerintah sudah cukup bagus dalam menjatuhkan keputusan yang dibuat, karena diyakini  keputusan-keputusan itu telah dikonsultasikan langsung dengan ahlinya, misalkan ahli epidemiologi.

"Kita ini aslinya terlambat penanganan," kata dia.

Meski demikian, lanjutnya pemutusan mata rantai penyebaran covid-19 ini masih bisa dilakukan oleh seluruh lapisan kelompok orang.

"Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, masyarakat bisa mengikuti imbauan dengan baik, instansi terkait bisa mendukung mengaplikasikan kebijakan di lapangan dan relawan menjalankan panggilan jiwa mereka," tutupnya.

(*)

Editor: Maria Sorenada Garudea Prabawati
Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved